Harga kebutuhan pokok dipantau ketat di pasar tradisional Balikpapan

En bref

  • Pemantauan harga di pasar tradisional Balikpapan menjadi rutinitas harian untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
  • Komoditas utama—beras, bawang, cabai, ayam, daging sapi, gula, garam, hingga ikan—terpantau stabil dengan rentang harga yang jelas di lapangan.
  • Stok pasar dinilai cukup karena distribusi lancar dan koordinasi dengan pedagang serta distributor berjalan rapi.
  • Pemkot dan TPID menyiapkan langkah antisipasi saat permintaan melonjak (misalnya jelang Nataru atau Ramadan), termasuk operasi pasar murah dan kolaborasi dengan Bulog.
  • Strategi harga seperti kios penyeimbang dan keterbukaan label harga dipakai untuk melindungi konsumen dan menjaga kepercayaan publik.

Di Balikpapan, urusan belanja harian bukan semata soal “murah atau mahal”, melainkan soal rasa aman: apakah beras masih ada, cabai tiba tepat waktu, dan harga ayam tidak berubah mendadak. Karena itu, harga kebutuhan pokok dipantau ketat di sejumlah pasar lokal yang menjadi barometer belanja warga—seperti Klandasan dan Pandansari—dengan pendekatan yang terasa sangat “lapangan”: petugas berdialog dengan pedagang, mengecek papan harga, mencatat stok, lalu membandingkan pergerakan harian. Pola kerja ini menjadi semakin penting ketika masyarakat memasuki periode permintaan tinggi, mulai dari persiapan Lebaran hingga libur Natal dan Tahun Baru. Di tengah arus logistik kota yang bergantung pada pasokan luar daerah, stabilnya harga juga menjadi sinyal bahwa distribusi sedang sehat.

Gambaran stabilitas itu terlihat dari rentang harga yang tidak banyak bergeser: beras medium bertahan di kisaran belasan ribu rupiah per kilogram, bawang dan cabai tidak melonjak drastis, protein hewani masih di level yang bisa diprediksi, bahkan komoditas ikan dan kebutuhan rumah tangga seperti gula serta garam tetap terbaca ritmenya. Pemerintah kota melalui dinas terkait menekankan bahwa kunci utamanya adalah ketersediaan barang dan kelancaran distribusi. Ketika dua faktor itu terjaga, kepanikan belanja bisa diredam—dan warga tak perlu “borong” yang justru memicu gejolak harga.

Pemerintah Kota Balikpapan memperketat pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional

Di balik angka-angka pada lembar monitoring, ada rutinitas yang berlangsung nyaris setiap hari: petugas dinas mendatangi kios, menanyakan harga transaksi nyata (bukan sekadar harga “tertulis”), mengukur ketersediaan stok di pedagang grosir dan eceran, lalu memetakan komoditas mana yang rawan bergejolak. Cara kerja ini penting karena pemantauan harga yang hanya mengandalkan laporan dari jauh sering tertinggal dibanding dinamika lapangan—misalnya, saat pasokan cabai datang terlambat beberapa jam saja, suasana pasar bisa berubah.

Balikpapan memiliki ketergantungan pasokan dari berbagai daerah pemasok. Ketika cuaca di jalur laut kurang bersahabat atau biaya angkut naik, efeknya cepat terasa di rak pedagang. Maka, pendekatan pemkot bukan sekadar “mencatat harga”, melainkan membaca sebab-akibat: apakah kenaikan dipicu pasokan yang tersendat, biaya logistik, atau lonjakan permintaan. Pada titik ini, koordinasi lintas lembaga menjadi krusial—dari pengendalian inflasi daerah hingga komunikasi dengan distributor. Perbincangan lebih luas tentang bagaimana negara memantau rantai pasok pangan juga bisa dilihat melalui pemantauan distribusi pangan untuk mencegah kelangkaan, yang relevan dengan kebutuhan kota-kota yang bergantung pasokan seperti Balikpapan.

Di lapangan, pemantauan sering dilakukan pada pasar yang perputarannya tinggi. Pasar Klandasan misalnya, menjadi titik belanja pekerja harian dan rumah tangga di pusat kota; sementara Pandansari menjadi rujukan warga dari kawasan lain karena variasi komoditasnya. Petugas biasanya mengamati dua hal: harga komoditas inti dan “komoditas pemicu emosi” seperti cabai. Mengapa cabai? Karena perubahan kecil saja pada cabai dapat mengubah persepsi warga terhadap mahalnya hidup, walau komoditas lain stabil.

Untuk membuat gambaran lebih konkret, bayangkan seorang pembeli fiktif bernama Rina, karyawan swasta yang biasa belanja setiap Sabtu pagi. Rina tidak menghitung inflasi secara statistik, tetapi ia merasakan tekanan biaya hidup dari keranjang belanja: beras, gula, bawang, ayam, dan sedikit ikan. Ketika ia melihat papan harga konsisten dua minggu berturut-turut, ia cenderung belanja normal. Namun saat harga cabai mendadak melonjak, Rina akan menunda menu tertentu, bertanya ke pedagang lain, atau membeli lebih sedikit. Perubahan perilaku konsumen seperti ini yang ingin diredam melalui komunikasi harga yang transparan dan intervensi yang terukur.

Di luar sektor pangan, faktor ekonomi rumah tangga lain juga ikut membentuk daya beli. Diskusi publik tentang beban hidup—mulai dari upah, energi, hingga biaya transport—berpengaruh pada sensitivitas warga terhadap harga bahan pangan. Misalnya, ketika perdebatan soal upah minimum ramai, persepsi “harga makin mahal” cenderung menguat. Perspektif lebih luas ini tercermin pada negosiasi upah minimum daerah yang memicu perdebatan dan juga isu energi rumah tangga seperti kajian ulang subsidi listrik rumah tangga. Dampaknya sederhana: ketika pengeluaran lain naik, warga makin peka pada perubahan kecil di pasar.

Di ujungnya, pemantauan yang ketat bukan tentang “mencari kesalahan pedagang”, tetapi tentang menjaga ritme pasar agar tetap bisa diprediksi oleh warga dan pelaku usaha kecil—sebuah prasyarat penting untuk stabilitas sosial ekonomi kota.

pantau harga kebutuhan pokok dengan ketat di pasar tradisional balikpapan untuk memastikan kestabilan dan ketersediaan barang sehari-hari bagi masyarakat.

Rincian harga kebutuhan pokok Balikpapan: membaca angka, memahami perilaku pasar lokal

Angka harga di pasar tradisional sering terlihat “biasa”, tetapi bagi pengendalian inflasi, rentang dan konsistensi jauh lebih penting daripada satu angka tunggal. Dari pemantauan yang dilakukan dinas perdagangan, beberapa komoditas kunci berada pada rentang yang relatif stabil. Beras medium, misalnya, bertahan di kisaran Rp13.100–Rp15.600 per kilogram. Beras premium berada di sekitar Rp17.600 per kilogram. Rentang tersebut memberi sinyal bahwa pasokan masih mengalir, dan kompetisi antar pedagang tetap bekerja.

Untuk bumbu dapur, bawang merah dan bawang putih berada pada kisaran Rp48.000–Rp50.000 per kilogram. Cabai—yang sering menjadi “termometer” emosi konsumen—tercatat stabil pada beberapa kategori: cabai rawit sekitar Rp33.000 per kilogram, cabai merah besar Rp55.000 per kilogram, dan cabai keriting Rp53.000 per kilogram. Stabilnya cabai bukan berarti risiko hilang; komoditas ini tetap sensitif terhadap cuaca dan pasokan antardaerah. Namun, ketika data harian menunjukkan tidak ada pergerakan berarti, pemerintah bisa fokus pada antisipasi periode puncak permintaan berikutnya.

Protein hewani juga menjadi perhatian karena dampaknya besar pada pengeluaran keluarga. Daging ayam ras berada di sekitar Rp37.500 per kilogram, sementara daging sapi murni tercatat sekitar Rp150.000 per kilogram. Untuk komoditas laut, tongkol berada di kisaran Rp35.000 per kilogram. Di sisi lain, ikan asin memiliki struktur harga yang berbeda karena proses pengolahan dan kualitas: bambangan dapat mencapai Rp200.000 per kilogram, teri besar Rp80.000 per kilogram, dan teri kecil Rp140.000 per kilogram. Harga ikan asin yang tinggi sering membuat warga mengakalinya dengan membeli eceran per ons, atau memilih alternatif protein lain.

Komoditas
Kisaran Harga (Balikpapan)
Catatan Pemantauan
Beras medium
Rp13.100–Rp15.600/kg
Stabil, dipengaruhi pasokan dan preferensi merek
Beras premium
± Rp17.600/kg
Relatif tetap, sensitif pada stok distributor
Bawang merah/putih
Rp48.000–Rp50.000/kg
Stabil, penting untuk konsumsi harian
Cabai rawit
± Rp33.000/kg
Rentan naik saat cuaca buruk, dipantau ketat
Ayam ras
± Rp37.500/kg
Relatif terjaga, bergantung pasokan harian
Daging sapi murni
± Rp150.000/kg
Komoditas “premium”; daya beli sangat menentukan
Gula lokal / Gulaku
Rp18.000/kg / Rp20.000/kg
Stabil, jadi indikator belanja rumah tangga
Garam beryodium (250 gr)
± Rp5.000/bungkus
Stabil, stok umumnya aman

Komoditas kebutuhan rumah tangga lain seperti gula pasir lokal di sekitar Rp18.000 per kilogram dan gula kemasan tertentu sekitar Rp20.000 per kilogram juga menjadi indikator penting karena dibeli rutin. Garam beryodium ukuran 250 gram di kisaran Rp5.000 per bungkus menunjukkan bahwa barang dengan rantai pasok relatif sederhana cenderung lebih stabil. Namun tetap, bila logistik terganggu, barang “murah” pun bisa cepat kosong.

Membaca data semacam ini tidak cukup hanya mencatat angka; yang lebih penting adalah memahami perilaku pasar. Pedagang biasanya menahan harga ketika stok masih ada, tetapi akan menyesuaikan cepat saat pengiriman berikutnya datang dengan biaya lebih tinggi. Di sisi konsumen, ada pola substitusi: ketika cabai mahal, mereka beralih ke saus; saat daging sapi tinggi, mereka memilih ayam atau ikan. Pola substitusi inilah yang sering menahan inflasi agar tidak meledak sekaligus, karena tekanan berpindah antar komoditas.

Keteraturan data dan respons pasar yang rasional adalah fondasi untuk pembahasan berikutnya: bagaimana stok pasar dijaga dan bagaimana logistik kota mempengaruhi harga harian.

Untuk melihat konteks global tentang betapa sensitifnya harga pangan dan energi terhadap inflasi, pembaca bisa membandingkan dengan dinamika di negara lain seperti pada inflasi tinggi di Amerika Serikat atau tekanan biaya hidup yang dibahas dalam krisis biaya hidup di Inggris. Perbandingan ini menegaskan bahwa stabilitas di pasar lokal bukan hal sepele.

Stok pasar dan ketersediaan barang: logistik, distribusi, dan titik rawan di Balikpapan

Stabilnya harga kebutuhan pokok hampir selalu berangkat dari satu kalimat kunci: ketersediaan barang aman. Dalam praktiknya, kalimat itu berarti banyak hal: kapal atau truk pengangkut datang tepat waktu, gudang distributor punya persediaan minimum, pedagang grosir tidak menahan barang, dan jalur menuju pasar tidak macet parah. Di Balikpapan, yang menjadi kota jasa dan industri, kelancaran distribusi adalah urat nadi pasar. Begitu logistik tersendat, efeknya bisa muncul esok pagi di meja timbangan pedagang.

Kepala dinas perdagangan setempat pernah menekankan bahwa stabilitas harga merefleksikan pasokan yang terjaga di tingkat pedagang dan distribusi yang tidak tersendat. Ini bukan sekadar klaim administratif; pedagang di pasar tradisional biasanya merasakan lebih cepat: bila stok bawang menipis, mereka mulai membatasi penjualan eceran; bila pasokan ayam terlambat, mereka menawar harga di tingkat agen lebih agresif. Ketika beberapa mata rantai ini berjalan serempak, pasar terasa “tenang”—warga belanja tanpa desas-desus kelangkaan.

Di lapangan, terdapat beberapa titik rawan. Pertama, komoditas yang bergantung pada cuaca dan panen (cabai, beberapa sayur). Kedua, komoditas yang memerlukan rantai dingin atau distribusi cepat (ayam, ikan basah). Ketiga, barang yang banyak dicari pada momen tertentu (gula, santan, telur jelang hari besar). Ketiga kelompok ini membutuhkan perlakuan logistik berbeda. Misalnya, ikan basah yang datang terlambat beberapa jam bisa turun kualitas; pedagang lalu menurunkan harga untuk menghabiskan stok, tetapi esoknya justru menaikkan harga karena harus menutup kerugian. Dinamika semacam ini membuat pemantauan tidak bisa kaku.

Faktor pendukung lain adalah kondisi jalan, arus lalu lintas, dan pengaturan kendaraan barang menuju pasar. Meski isu ini terdengar di luar pangan, dampaknya nyata. Ketika ruas tertentu padat atau ada perbaikan infrastruktur di jalur pemasok, waktu tempuh berubah dan biaya bertambah. Pembaca bisa melihat bagaimana isu infrastruktur dan kelancaran mobilitas sering menjadi perhatian publik melalui berita seperti pengawasan lalu lintas dan contoh agenda perbaikan jalur seperti perbaikan jalan. Pelajarannya sederhana: biaya distribusi adalah komponen harga yang sering tidak terlihat oleh konsumen.

Ada juga dimensi pasokan dari daerah penghasil. Ketika produksi meningkat di sentra pangan, tekanan harga bisa turun, sebaliknya saat pasokan seret, pasar kota akan bereaksi. Untuk memahami kaitan ini, menarik menengok bagaimana kapasitas produksi dibahas pada produksi pangan di Jawa Timur atau penguatan pasokan di wilayah lain pada ketahanan pangan NTT. Walau konteksnya berbeda, logikanya sama: kota konsumen sangat dipengaruhi stabilitas wilayah produsen.

Taktik lapangan yang sering dipakai pedagang ketika pasokan menipis

Pedagang bukan hanya “penerima harga”; mereka juga mengelola risiko. Saat stok menipis, sebagian pedagang memilih mengurangi display agar tidak memancing panic buying. Ada yang menjual paket kecil (misalnya cabai 50 gram) untuk menjaga keterjangkauan. Ada pula yang mengalihkan pembeli ke substitusi, seperti menawarkan ikan tongkol ketika ikan lain mahal. Respons mikro seperti ini sering membantu menahan gejolak di tingkat konsumen.

Mengapa keterbukaan informasi stok memperkuat kepercayaan pasar lokal?

Di pasar tradisional, rumor bisa menyebar lebih cepat daripada data resmi. Ketika masyarakat mendengar “barang akan langka”, mereka cenderung membeli lebih banyak. Itulah sebabnya pemerintah mendorong komunikasi yang rapi—bahkan hal sederhana seperti mengatakan bahwa stok pedagang masih mencukupi bisa mengurangi kecemasan. Kepercayaan ini adalah modal sosial yang penting agar strategi pengendalian inflasi tidak hanya berjalan di kantor, tetapi juga diterima di lorong pasar.

Ketika stok dan logistik sudah dipetakan, langkah berikutnya adalah membahas perangkat kebijakan: dari kios penyeimbang hingga operasi pasar murah sebagai strategi harga yang dirancang untuk menahan lonjakan musiman.

Strategi harga: kios penyeimbang, operasi pasar murah, dan kerja sama Bulog untuk meredam inflasi

Setiap kota punya “musim ramai” belanja yang berulang: menjelang Ramadan dan Idul Fitri, lalu kembali naik pada periode Natal dan Tahun Baru. Balikpapan bukan pengecualian. Karena itu, pemerintah kota menyiapkan strategi harga yang bersifat preventif sekaligus responsif. Preventif berarti memastikan pasokan tidak putus jauh-jauh hari; responsif berarti siap menggelar intervensi ketika indikator tertentu—misalnya harga cabai atau komoditas protein—menunjukkan tren naik yang cepat.

Salah satu instrumen penting adalah operasi pasar murah. Dalam skema ini, pemerintah bekerja sama dengan pihak yang memiliki kapasitas stok (sering kali Bulog atau distributor besar) untuk menjual komoditas tertentu dengan harga yang lebih terkendali. Operasi seperti ini bukan untuk “mengalahkan” pedagang pasar, melainkan untuk menambah suplai di momen puncak sehingga harga tidak liar. Efeknya biasanya terasa pada psikologi pasar: ketika warga tahu ada alternatif, daya tawar konsumen membaik dan spekulasi harga cenderung mereda.

Selain operasi pasar, konsep kios penyeimbang juga kerap disorot. Kios ini berfungsi sebagai titik acuan agar harga ritel tidak melewati batas kewajaran atau acuan tertentu. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan wakil wali kota bersama TPID pada 2025—yang relevansinya masih terasa dalam pola pengawasan saat ini—ditekankan agar harga di kios penyeimbang dipajang jelas. Alasannya praktis: pembeli sering ragu beralih ke kios baru jika takut lebih mahal daripada langganan. Ketika label harga transparan, kepercayaan tumbuh, dan kios penyeimbang benar-benar bekerja sebagai “rem” pasar.

Studi kasus kecil: santan kelapa dan pola kenaikan musiman

Menjelang Lebaran, permintaan santan naik karena banyak keluarga memasak opor, rendang, atau gulai. Kenaikan seperti ini sering bersifat sementara. Pemerintah biasanya memperlakukan komoditas musiman dengan pendekatan komunikasi dan suplai: memastikan masyarakat paham bahwa kenaikan didorong lonjakan permintaan, sambil mengupayakan pasokan tambahan agar lonjakan tidak berlarut. Untuk warga, pemahaman ini penting agar keputusan belanja lebih bijak—misalnya membeli sesuai kebutuhan, menyiasati menu, atau memanfaatkan substitusi.

Langkah praktis pengendalian yang umum disiapkan pemerintah kota

  • Pemantauan harga harian di beberapa titik pasar tradisional sebagai barometer pergerakan.
  • Koordinasi cepat dengan distributor saat ada indikasi kelangkaan, termasuk pengalihan suplai antar pasar.
  • Operasi pasar murah pada komoditas tertentu ketika permintaan melonjak.
  • Kolaborasi dengan Bulog untuk menjaga pasokan beras dan komoditas strategis.
  • Penguatan kios penyeimbang dengan keterbukaan label harga agar warga percaya dan mau membeli.

Langkah-langkah ini juga berfungsi sebagai sinyal kebijakan: pemerintah hadir, pasar diawasi, dan ruang spekulasi dipersempit. Pada saat yang sama, pendekatan ini perlu sensitif agar tidak mematikan marjin pedagang kecil. Karena itu, dialog menjadi bagian penting: petugas mendengar keluhan biaya angkut, pedagang menyampaikan kesulitan mendapatkan pasokan, lalu pemerintah menghubungkan titik-titik itu dengan solusi logistik atau suplai tambahan.

Jika ditarik lebih luas, perlindungan konsumen juga berkaitan dengan variabel makro seperti harga energi dan bahan bakar yang mempengaruhi ongkos distribusi. Diskusi mengenai dampak kenaikan harga komoditas global dan respons pemerintah dapat dilihat pada kenaikan harga minyak dunia dan skema perlindungan konsumen. Ketika biaya logistik naik, intervensi pasar dan efisiensi distribusi menjadi semakin penting agar harga kebutuhan pokok tidak ikut terangkat tajam.

Bagian berikutnya akan menyorot bagaimana warga dan pedagang beradaptasi, serta mengapa perilaku belanja yang bijak sama pentingnya dengan kebijakan, terutama untuk menjaga stabilitas pasar lokal Balikpapan.

Dari pedagang ke rumah tangga: dampak pemantauan harga kebutuhan pokok pada perilaku belanja warga Balikpapan

Ketika pemerintah rutin melakukan pemantauan, dampak paling nyata sering kali bukan pada headline, melainkan pada percakapan kecil: pedagang merasa diperhatikan, pembeli merasa ada pegangan, dan rumor menjadi lebih mudah ditepis. Di Balikpapan, stabilitas di pasar tradisional membantu rumah tangga merencanakan belanja mingguan. Ini penting karena banyak keluarga mengatur pengeluaran dengan pendekatan amplop: beras untuk sebulan, bumbu untuk dua minggu, protein bergantian sesuai promo dan ketersediaan.

Ambil contoh keluarga fiktif Pak Arman di kawasan Balikpapan Kota. Ia bekerja di sektor jasa, sementara istrinya mengelola belanja rumah. Ketika harga ayam tetap di sekitar angka yang sama, mereka bisa menetapkan menu harian tanpa banyak revisi. Namun jika cabai naik, mereka punya strategi: membeli cabai lebih sedikit dan memperbanyak bumbu aromatik lain, atau menunda masakan tertentu sampai harga turun. Pola adaptasi ini membuat tekanan inflasi terasa “dikelola”, bukan “menghantam”.

Di sisi pedagang, kepastian distribusi dan komunikasi pemerintah mengurangi kebutuhan untuk menimbun. Pedagang yang yakin pasokan akan datang lebih memilih menjaga volume penjualan ketimbang menaikkan harga. Efek domino ini penting: semakin sedikit pelaku yang berspekulasi, semakin stabil harga terbentuk. Karena itu, imbauan pemerintah agar warga tidak membeli berlebihan bukan sekadar nasihat moral, melainkan bagian dari mekanisme stabilisasi permintaan.

Transparansi harga sebagai layanan publik di lorong pasar

Label harga yang jelas di kios penyeimbang maupun kios umum membantu konsumen membandingkan secara sehat. Transparansi mengurangi praktik “harga berbeda untuk pembeli berbeda” yang kadang muncul di pasar ramai. Bagi pembeli baru—mahasiswa, perantau, atau keluarga muda—papan harga juga mengurangi rasa canggung saat menawar. Pada akhirnya, keterbukaan ini memperkuat fungsi pasar tradisional sebagai ruang ekonomi sekaligus ruang sosial.

Belanja bijak: kebiasaan kecil yang menahan inflasi dari sisi permintaan

Menahan inflasi bukan hanya urusan kebijakan; perilaku konsumen turut menentukan. Ketika banyak orang melakukan panic buying, pedagang cepat menaikkan harga karena stok menipis. Sebaliknya, ketika warga berbelanja sesuai kebutuhan dan melakukan substitusi menu, tekanan permintaan menyebar dan pasar lebih stabil. Kebiasaan seperti mencatat kebutuhan mingguan, memanfaatkan bahan beku saat ikan segar mahal, atau membeli bumbu dalam ukuran kecil sering kali efektif.

Untuk membantu warga mempraktikkan belanja bijak tanpa mengorbankan gizi, berikut beberapa langkah sederhana yang relevan dengan situasi pasar lokal:

  1. Bandingkan harga di dua atau tiga kios sebelum membeli komoditas sensitif seperti cabai dan bawang.
  2. Prioritaskan kebutuhan pokok inti (beras, protein, sayur) sebelum belanja pelengkap.
  3. Gunakan substitusi menu: ketika daging sapi tinggi, pilih ayam atau ikan tongkol yang lebih terjangkau.
  4. Beli sesuai porsi rumah tangga untuk menghindari pemborosan, terutama bahan cepat rusak.
  5. Perhatikan pengumuman operasi pasar murah agar bisa mendapatkan harga terkendali saat periode ramai.

Jika ditarik lebih jauh, kestabilan harga pangan memberi dampak sosial: ketenangan rumah tangga, keberlanjutan usaha pedagang kecil, dan suasana kota yang lebih kondusif. Bahkan program bantuan dan perlindungan sosial di daerah lain sering menekankan aspek yang sama—menjaga daya beli agar konsumsi dasar tidak terganggu—seperti yang tergambar dalam bantuan pemerintah di Bogor. Konteksnya berbeda, tetapi tujuannya sejalan: menjaga fondasi kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ketika pemantauan berjalan konsisten, data terbuka, dan intervensi tepat sasaran, pasar tradisional tidak sekadar menjadi tempat transaksi, melainkan indikator kesehatan ekonomi kota. Insight terpentingnya: stabilitas bukan kebetulan—ia lahir dari kerja rutin yang disiplin, dialog yang nyata, dan perilaku belanja yang sama-sama dewasa.

Berita terbaru
Berita terbaru
17 Februari 2026

Siang hari yang biasanya dipenuhi rutinitas belanja mendadak berubah menjadi situasi darurat ketika kebakaran dilaporkan

30 Januari 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pengemudi di kota-kota besar Jepang semakin sering berhadapan dengan musuh yang

30 Januari 2026

Di pinggiran Jabodetabek, asap tipis yang muncul menjelang senja kerap dianggap “biasa”: tumpukan sampah terbuka

30 Januari 2026

Gelombang pendanaan baru untuk pelaku startup di Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada “musim” investor,

29 Januari 2026

Di Singapura, gagasan kota pintar kini bergerak dari sekadar layanan digital menjadi agenda yang lebih

29 Januari 2026

Di Vietnam, pertarungan melawan informasi palsu kini berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan negara atas ruang