Vietnam memperketat pengawasan terhadap konten digital yang dianggap menyesatkan

Di Vietnam, pertarungan melawan informasi palsu kini berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan negara atas ruang daring. Setelah rangkaian kebijakan yang diperketat sejak 2022, pemerintah secara resmi menerapkan aturan baru pada akhir 2024 yang memberi wewenang lebih luas untuk mengatur internet, menata ulang peran platform lintas negara, dan membatasi praktik tertentu seperti siaran langsung. Di atas kertas, narasinya adalah perlindungan publik: mencegah penipuan, rumor berbahaya, dan konten digital yang dinilai menyesatkan. Namun di lapangan, kebijakan ini ikut membentuk ulang cara warga berbicara, berbisnis, dan berpartisipasi dalam kehidupan sipil—karena definisi “berbahaya” atau “ilegal” dapat bergerak mengikuti tafsir otoritas.

Gambaran yang muncul pada 2026 adalah ekosistem yang makin “terverifikasi”: identitas digital dikaitkan dengan nomor telepon atau identitas pribadi, data pengguna disimpan secara lokal dan dapat diminta kapan saja, sementara platform diwajibkan menurunkan konten dalam hitungan jam. Pada saat yang sama, perusahaan teknologi global harus menyeimbangkan kepatuhan dengan ekspektasi pengguna yang ingin privasi serta kebebasan berekspresi. Bagi kreator, jurnalis warga, dan pelaku UMKM, perubahan ini bukan sekadar pasal hukum—melainkan perubahan rutinitas, dari cara mengunggah video, memilih kata, hingga mengamankan akun. Di titik ini, pertanyaan yang menggantung bukan hanya “bagaimana melawan hoaks?”, melainkan juga “siapa yang berhak menentukan apa yang disebut hoaks, dan lewat mekanisme apa?”

  • Vietnam menerapkan kerangka regulasi internet yang memperluas kendali negara atas akses informasi dengan alasan keamanan nasional dan ketertiban sosial.
  • Dekret yang terbit pada November 2024 dan berlaku efektif akhir Desember 2024 mengharuskan penghapusan konten yang dianggap ilegal dalam 24 jam.
  • Platform media sosial yang melayani pengguna di Vietnam diminta menyimpan data pengguna dan menyerahkannya kepada otoritas bila diminta, memunculkan isu keamanan data.
  • Akun pengguna didorong/diwajibkan untuk diverifikasi lewat nomor telepon atau identitas; fitur seperti siaran langsung dibatasi untuk akun terverifikasi.
  • Tekanan terhadap platform lintas batas mendorong praktik sensor dan moderasi yang lebih agresif, berdampak pada kreator, bisnis, dan percakapan publik.

Vietnam memperketat pengawasan konten digital menyesatkan: apa yang berubah setelah Dekret 147

Per 25 Desember 2024, Vietnam resmi menjalankan aturan pembatasan internet yang banyak dibicarakan karena memperluas jangkauan negara dalam mengawasi arus informasi. Dekret yang terbit sebulan sebelumnya—pada November 2024—menempatkan platform digital pada posisi yang lebih “terikat”: mereka tidak hanya diminta menindak konten digital yang dianggap menyesatkan, tetapi juga menyiapkan infrastruktur kepatuhan yang rapi, cepat, dan mudah diaudit. Logikanya sederhana: jika konten berbahaya menyebar dalam menit, maka penanganannya pun harus dalam jam, bukan hari.

Salah satu elemen kunci adalah kewajiban untuk menghapus apa pun yang dinilai “ilegal” oleh otoritas dalam 24 jam. Untuk banyak platform, ini berarti proses moderasi harus bersifat real-time dan terintegrasi dengan pelaporan pemerintah. Dampaknya terasa pada ritme kerja tim trust & safety: antrean laporan dari pengguna tidak lagi menjadi satu-satunya sinyal, karena permintaan takedown dari otoritas punya prioritas berbeda. Pada akhirnya, ruang diskusi bisa berubah: topik yang dianggap sensitif akan lebih cepat “menghilang”, bahkan sebelum publik memahami konteksnya.

Di sisi lain, Dekret 147 menegaskan agenda penguatan kontrol atas akses informasi dengan alasan “keamanan nasional” dan “ketertiban sosial”. Alasan ini sangat lazim di banyak negara ketika membahas dunia digital, namun penerapannya menentukan apakah kebijakan tersebut berfungsi sebagai pelindung warga atau alat pembatas kritik. Sejumlah pengamat hak asasi menilai bahwa ketika kritik terhadap penguasa dipandang sebagai ancaman, maka ruang ekspresi dapat menyempit secara signifikan. Pernyataan dari Human Rights Watch, misalnya, menyoroti risiko bahwa perangkat hukum baru akan mempermudah penindasan perbedaan pendapat—bukan semata menutup hoaks.

Untuk memahami konsekuensinya, bayangkan tokoh fiktif bernama Linh, seorang pekerja kreatif di Hanoi yang juga menjual aksesori buatan tangan lewat siaran langsung. Sebelum aturan baru, Linh cukup membuat akun, mengatur jadwal live, dan berinteraksi dengan pembeli. Setelah pengetatan, ia harus memastikan akunnya terverifikasi terlebih dulu agar fitur live tetap tersedia. Jika satu hari ia mengomentari isu kebijakan publik dengan nada kritis, unggahannya berpotensi dilaporkan dan ditinjau cepat. Linh lalu belajar mengubah gaya komunikasi: lebih banyak promosi produk, lebih sedikit opini. Pertanyaannya: apakah perubahan itu murni karena ia ingin fokus bisnis, atau karena iklim pengawasan membuatnya berhitung dua kali?

Pengetatan juga memperjelas tuntutan kepatuhan terhadap platform lintas batas seperti Facebook dan TikTok. Vietnam seolah berkata: jika ingin beroperasi di pasar lokal, perusahaan harus tunduk pada standar lokal, termasuk dalam urusan data, verifikasi, dan moderasi. Bagi perusahaan, ini bukan sekadar persoalan kebijakan; ini persoalan biaya, arsitektur sistem, serta hubungan dengan pengguna. Bagi pengguna, ini menyentuh hal yang lebih intim: identitas dan jejak digital.

Pada titik ini, benang merahnya terlihat: penanganan informasi palsu menjadi pintu masuk untuk menata ulang ekosistem informasi. Berikutnya, isu yang paling menentukan adalah bagaimana data warga dikelola dan dipertukarkan.

vietnam memperketat pengawasan konten digital untuk menangkal informasi menyesatkan dan menjaga keamanan dunia maya.

Regulasi internet Vietnam dan keamanan data: verifikasi identitas, penyimpanan lokal, dan akses otoritas

Ketika sebuah negara memperketat pengawasan terhadap informasi, isu yang langsung ikut terseret adalah keamanan data. Dalam kerangka baru Vietnam, platform media sosial yang menyediakan layanan kepada pengguna domestik diwajibkan menyimpan data pengguna dan menyerahkannya kepada otoritas bila diminta. Secara operasional, ini memunculkan dua kata kunci yang sering diperdebatkan: data localization dan lawful access. Keduanya terdengar administratif, tetapi konsekuensinya sangat personal bagi warga.

Verifikasi identitas menjadi pilar utama. Platform diminta memverifikasi akun melalui nomor telepon atau nomor identitas pribadi, dan menyimpan data tersebut. Tujuan resmi yang biasa dikemukakan adalah mengurangi akun palsu, bot, dan jaringan penipuan. Memang, di berbagai negara, kewajiban verifikasi kerap dikaitkan dengan penurunan spam serta peningkatan akuntabilitas. Namun, verifikasi juga mengubah “biaya” untuk berbicara: ketika identitas mudah ditautkan ke unggahan, orang cenderung lebih berhati-hati. Dalam konteks Vietnam, kehati-hatian itu bisa berarti perilaku sehat—mengurangi fitnah—atau bisa juga berarti self-censorship.

Di level perusahaan, kewajiban penyimpanan data dan penyediaan data saat diminta memaksa perubahan arsitektur. Jika sebelumnya data pengguna Vietnam tersebar di pusat data regional, kini perusahaan harus menyiapkan infrastruktur lokal atau mekanisme yang memenuhi tuntutan setempat. Hal ini punya dampak biaya dan risiko. Biaya karena investasi server dan kepatuhan; risiko karena bertambahnya permukaan serangan siber serta kompleksitas pengelolaan akses internal. Semakin banyak titik penyimpanan dan jalur akses, semakin tinggi kebutuhan audit keamanan.

Ada pula kewajiban menyediakan alat pencarian dan pemindaian konten kepada otoritas bila diminta. Ini bisa dibaca sebagai “jalur cepat” untuk investigasi—misalnya ketika ada kampanye penipuan yang terkoordinasi. Namun, di sisi lain, fitur pemindaian skala besar berpotensi memperluas pengawasan menjadi lebih menyeluruh. Di sinilah ketegangan etis muncul: bagaimana memastikan alat tersebut dipakai spesifik, proporsional, dan terukur, bukan untuk menyapu bersih kritik yang sah?

Untuk memberi gambaran praktis, bayangkan perusahaan rintisan fiktif bernama MekongMart yang menjual produk lokal lewat video pendek. Tim pemasaran mereka menggunakan tren untuk membuat konten, kadang memparodikan isu sosial. Setelah aturan diperketat, mereka membuat SOP baru: setiap kreator internal wajib memakai akun terverifikasi; topik sensitif harus melalui review; metadata konten disimpan rapi agar mudah merespons permintaan platform. MekongMart mungkin lebih aman dari serangan akun palsu, tetapi kreativitas spontan ikut berkurang. Pada akhirnya, kepatuhan membentuk gaya komunikasi merek.

Perdebatan global tentang transparansi konten juga menambah lapisan. Ketika konten sintetis atau hasil generatif kian mudah dibuat, label dan penanda menjadi penting untuk mencegah manipulasi publik. Dalam konteks ini, diskusi tentang pelabelan konten buatan AI relevan sebagai referensi praktik lintas negara, misalnya melalui pembahasan inisiatif pelabelan konten AI yang menekankan pentingnya penanda agar publik memahami konteks. Vietnam dapat memakai kerangka semacam ini untuk membedakan misinformasi berbahaya dari konten satir atau kreatif—tetapi implementasinya tetap menentukan arah kebebasan berekspresi.

Jika data dan identitas adalah fondasi, maka “panggung”-nya adalah platform: fitur apa yang boleh dipakai, siapa yang boleh siaran, dan bagaimana moderasi dilakukan. Di sinilah kebijakan menyentuh kehidupan sehari-hari kreator dan komunitas.

Perubahan teknis sering terdengar jauh, tetapi efeknya terlihat pada hal sederhana: tombol “Live” yang mendadak terkunci bagi akun yang belum diverifikasi.

Sensor, pembatasan fitur live, dan dampaknya pada media sosial: dari kreator hingga UMKM

Salah satu bagian yang paling mudah dirasakan pengguna dari pengetatan regulasi Vietnam adalah pembatasan fungsi tertentu hanya untuk akun terverifikasi, terutama siaran video langsung. Di banyak negara, live streaming adalah mesin ekonomi baru: pedagang rumahan, musisi jalanan, guru les, hingga restoran kecil mengandalkan format live untuk menjual, mengajar, dan membangun komunitas. Ketika Vietnam mensyaratkan verifikasi untuk live, negara sebenarnya sedang mengubah desain partisipasi digital—siapa yang bisa tampil di panggung, dan syarat apa yang harus dipenuhi.

Bagi kreator mapan, verifikasi mungkin hanya satu langkah administratif. Namun bagi pekerja informal atau warga yang akses identitas digitalnya tidak rapi—misalnya pekerja migran internal, warga yang nomor teleponnya sering berganti, atau pelaku usaha kecil yang berbagi perangkat—verifikasi dapat menjadi hambatan nyata. Hambatan ini tidak selalu dimaksudkan sebagai larangan, tetapi tetap menghasilkan efek seleksi: hanya mereka yang “tertata” yang bisa menikmati fitur paling efektif untuk menjangkau audiens.

Di sinilah sensor dan moderasi beririsan dengan ekonomi kreator. Ketika platform harus menurunkan konten dalam 24 jam, mereka cenderung membangun filter yang lebih ketat untuk meminimalkan risiko sanksi. Filter ketat kerap memicu false positive: konten edukasi tentang isu sensitif, satire politik, atau diskusi kebijakan publik bisa ikut terjaring. Akibatnya, kreator belajar membaca “sinyal”: kata tertentu dihindari, topik digeser, kritik dibungkus humor yang lebih samar. Apakah publik diuntungkan karena lebih sedikit hoaks? Mungkin. Tetapi publik juga berpotensi kehilangan diskusi yang kritis namun sah.

Contoh yang sering terjadi dalam ekosistem mana pun adalah unggahan tentang keamanan publik atau layanan pemerintah. Misalnya, seorang warga merekam antrean panjang di fasilitas kesehatan dan mengkritik manajemen setempat. Video itu bisa dianggap keluhan konsumen yang wajar, atau bisa dipersepsikan sebagai “mengganggu ketertiban” jika konteks politiknya sensitif. Ketika standar “menyesatkan” tidak transparan, pengguna sulit menilai batas aman. Ini membuat ruang wicara mengecil bukan karena dilarang terang-terangan, tetapi karena orang tidak ingin mengambil risiko.

Untuk memetakan dampak secara ringkas, tabel berikut menunjukkan perubahan yang sering dirasakan pengguna setelah pengetatan kebijakan, beserta implikasinya.

Aspek

Sebelum pengetatan

Setelah pengetatan (arah kebijakan)

Dampak pada pengguna/UMKM

Verifikasi akun

Opsional di banyak platform

Didorong/diwajibkan untuk fitur tertentu; identitas ditautkan

Lebih sulit bagi pelaku informal; lebih mudah melacak pelanggar

Siaran langsung

Relatif terbuka

Live dibatasi untuk akun terverifikasi

Penjual live commerce harus patuh; mengurangi akun anonim

Penghapusan konten

Proses moderasi berlapis dan bisa lebih lama

Target takedown cepat, termasuk permintaan otoritas

Risiko false positive meningkat; kreator lebih berhati-hati

Penyimpanan data

Sering lintas negara/regional

Penyimpanan lokal dan akses otoritas bila diminta

Kekhawatiran keamanan data dan privasi meningkat

Pembatasan seperti ini juga memengaruhi budaya digital. Vietnam punya komunitas kreatif yang besar, dari musik indie hingga konten kuliner jalanan. Ketika moderasi makin ketat, ekspresi budaya pun bisa bergeser: konten aman seperti hiburan dan belanja tumbuh, sementara konten advokasi atau kritik kebijakan menyusut. Bukan berarti masyarakat berhenti membahas isu publik—sering kali diskusi berpindah ke kanal tertutup, grup kecil, atau platform yang lebih sulit dimoderasi.

Di wilayah Asia, langkah pembatasan platform bukan hal baru; beberapa negara membatasi aplikasi tertentu dengan alasan keamanan, kriminalitas siber, atau perlindungan anak. Rujukan regional membantu melihat pola: ketika negara menilai platform menjadi “lahan subur” kejahatan, tindakan yang diambil biasanya kombinasi pemblokiran, kewajiban verifikasi, dan pengetatan moderasi. Namun, seberapa efektif langkah itu menekan kriminalitas dibandingkan menekan percakapan publik? Jawabannya sering bergantung pada transparansi prosedur dan mekanisme banding bagi pengguna.

Jika pengetatan fitur dan moderasi mengubah perilaku kreator, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana publik membedakan konten menyesatkan dari kritik sah, terutama ketika teknologi generatif membuat manipulasi semakin halus?

Diskusi kebijakan biasanya terdengar abstrak, sampai satu unggahan dagangan tiba-tiba dibatasi jangkauannya karena dianggap melanggar aturan yang tidak dijelaskan secara rinci.

Menangani informasi palsu tanpa membungkam: definisi “menyesatkan”, transparansi, dan mekanisme banding

Istilah “menyesatkan” terdengar tegas, tetapi dalam praktiknya bisa lentur. Dalam banyak rezim moderasi, ada spektrum: dari hoaks kesehatan yang membahayakan nyawa, manipulasi pemilu, penipuan investasi, hingga opini yang keras namun masih berada dalam koridor kebebasan berekspresi. Ketika Vietnam memperketat pengawasan dan menetapkan kewajiban takedown cepat, kualitas definisi menjadi penentu: apakah yang disasar benar-benar informasi palsu, atau juga kritik dan satire yang tidak nyaman?

Di sinilah transparansi menjadi mata uang kepercayaan. Jika sebuah konten dihapus karena dianggap ilegal, pengguna perlu tahu alasan spesifiknya: aturan apa yang dilanggar, bagian mana yang bermasalah, dan bagaimana cara mengajukan banding. Tanpa itu, efek psikologisnya adalah ketidakpastian. Pengguna akan menghindari topik yang berisiko, meski kontennya berbasis fakta. Hasilnya bisa berupa “pendinginan” ruang publik: percakapan yang aman menguat, percakapan yang penting menghilang.

Contoh kasus yang sering terjadi di berbagai negara adalah rumor pascabencana. Bayangkan terjadi banjir di sebuah provinsi, lalu beredar video lama yang diklaim sebagai kondisi terkini. Pemerintah ingin cepat menghentikan kepanikan—ini sah dan penting. Namun, pada saat yang sama, warga yang benar-benar merekam kondisi terbaru juga butuh kanal untuk melapor. Jika semua konten terkait banjir disapu karena dianggap “menimbulkan keresahan”, respons darurat justru bisa terganggu. Solusinya bukan sekadar menghapus, melainkan mengklasifikasikan: mana misinformasi, mana laporan warga, mana kritik terhadap mitigasi.

Pendekatan yang lebih presisi biasanya menggabungkan tiga lapisan: verifikasi sumber (misalnya label media resmi atau akun institusi), literasi publik (kampanye cek fakta), dan penegakan hukum terhadap penipuan yang jelas merugikan. Rujukan praktik di tempat lain menunjukkan bahwa melawan penipuan online tidak harus identik dengan pembungkaman opini. Misalnya, pembahasan tentang fitur baru marketplace untuk melawan penipuan dapat memberi inspirasi mekanisme berbasis risiko dan bukti, seperti yang diulas dalam strategi marketplace melawan penipuan online. Mekanisme semacam itu fokus pada pola transaksi mencurigakan, verifikasi penjual, dan perlindungan konsumen—tanpa harus memperluas definisi “ilegal” ke ranah ekspresi.

Di Vietnam, ketika otoritas meminta penghapusan konten dalam 24 jam, platform cenderung memilih aman: hapus dulu, urusan klarifikasi belakangan. Dari perspektif tata kelola, ini dapat diperkaya dengan mekanisme banding yang cepat dan dapat diakses, terutama untuk jurnalis warga dan pelaku UMKM yang bergantung pada konten untuk pendapatan. Banding yang efektif bukan sekadar formulir; harus ada tenggat, alasan tertulis, dan peluang pemulihan jangkauan jika terjadi kesalahan moderasi.

Ada juga pertanyaan penting: bagaimana membedakan “menyesatkan” dengan “berbeda pendapat”? Kritik terhadap kebijakan ekonomi, misalnya, bisa dianggap mengganggu stabilitas bila dipotong konteks. Padahal, debat kebijakan adalah fungsi sehat masyarakat. Karena itu, parameter yang lebih terukur—misalnya bukti pemalsuan, niat menipu, atau dampak kerugian nyata—cenderung lebih adil dibanding parameter yang terlalu politis.

Di akhir bagian ini, satu hal menjadi jelas: perang melawan hoaks tidak cukup dengan tombol hapus. Ia butuh desain proses yang adil, dapat diaudit, dan meminimalkan salah sasaran. Lalu, bagaimana perusahaan teknologi dan warga menyesuaikan diri dalam lanskap yang makin ketat sambil tetap menjaga privasi serta keberlanjutan bisnis?

Strategi adaptasi perusahaan dan warga: kepatuhan regulasi, keamanan data, dan praktik literasi digital

Ketika Vietnam memperketat regulasi internet, adaptasi terjadi di dua level: perusahaan (platform dan bisnis lokal) serta warga (pengguna, kreator, komunitas). Perusahaan teknologi global harus menata ulang kebijakan, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Sementara itu, warga belajar membangun kebiasaan baru: dari cara membuat konten hingga cara melindungi akun agar tidak disalahgunakan.

Untuk platform besar, kepatuhan biasanya dimulai dari pemetaan kewajiban: verifikasi identitas, penyimpanan data, mekanisme respons takedown 24 jam, dan penyediaan alat pencarian/pemindaian bila diminta. Implementasi teknisnya tidak sederhana. Verifikasi dapat meningkatkan keamanan akun, tetapi juga menciptakan risiko kebocoran data jika pengelolaan tidak ketat. Karena itu, perusahaan yang serius akan memperkuat enkripsi data, kontrol akses internal, audit log, serta pelatihan karyawan agar permintaan data tidak disalahgunakan. Di sini, keamanan data bukan slogan; ia menjadi prasyarat keberlangsungan reputasi.

Bisnis lokal, terutama UMKM, beradaptasi dengan membuat “paket kebijakan internal” yang terdengar berlebihan untuk usaha kecil, tetapi kini terasa perlu. Misalnya: menyiapkan akun cadangan terverifikasi untuk operasional, mengarsipkan materi promosi, menyiapkan template klarifikasi jika konten ditandai, serta mencatat bukti transaksi untuk menghadapi laporan palsu. UMKM yang mengandalkan live commerce juga belajar mengurangi risiko: tidak membahas topik sensitif saat live, menampilkan informasi produk yang jelas, dan menghindari klaim medis atau finansial yang bisa dianggap menyesatkan.

Di level warga, adaptasi paling relevan adalah literasi digital yang praktis. Banyak kampanye literasi gagal karena terlalu normatif—“jangan sebar hoaks”—tanpa memberi alat. Dalam konteks ekosistem yang makin ketat, warga butuh keterampilan operasional: cek sumber, cek tanggal, cek lokasi, dan cek motif. Mereka juga perlu memahami jejak data: ketika identitas terhubung dengan akun, praktik keamanan dasar seperti autentikasi dua faktor, password manager, dan kewaspadaan terhadap phishing menjadi semakin penting.

Berikut daftar praktik yang realistis untuk menghadapi iklim moderasi ketat sekaligus menekan penyebaran informasi palsu:

  1. Verifikasi informasi sebelum membagikan: bandingkan minimal dua sumber independen, terutama untuk isu kesehatan, bencana, atau politik.
  2. Gunakan arsip bukti: untuk UMKM dan kreator, simpan versi asli konten, invoice, dan percakapan penting agar mudah mengajukan banding jika terjadi penurunan konten atau laporan.
  3. Perkuat keamanan akun: aktifkan autentikasi dua faktor, hindari berbagi OTP, dan waspadai tautan login palsu.
  4. Pisahkan akun personal dan bisnis: mengurangi risiko ketika satu akun terkena pembatasan fitur seperti live streaming.
  5. Gunakan bahasa yang presisi: bedakan opini, dugaan, dan fakta; sertakan konteks untuk menghindari tuduhan menyesatkan.

Adaptasi juga melibatkan kerja sama baru antara perusahaan dan negara. Banyak platform membangun kanal komunikasi khusus untuk permintaan pemerintah, lengkap dengan format standar dan tenggat. Agar tidak menjadi “ruang gelap”, idealnya kanal ini disertai laporan transparansi berkala: berapa banyak permintaan takedown, kategori konten, dan tingkat penerimaan banding. Laporan semacam ini penting untuk menilai apakah kebijakan menekan hoaks atau justru memperluas sensor.

Menariknya, pada 2026 perdebatan soal tata kelola konten makin dipengaruhi perkembangan AI. Konten sintetis dapat dipakai untuk edukasi, tetapi juga untuk propaganda. Karena itu, kemampuan mendeteksi manipulasi dan memberi label konten menjadi bagian dari tata kelola modern. Diskusi tentang alat bantu penulisan AI dan etika penggunaannya, misalnya, sering menekankan kejelasan sumber dan konteks, seperti yang dibahas dalam perkembangan AI untuk penulisan. Jika diterapkan hati-hati, pendekatan ini bisa membantu membedakan karya kreatif dari materi yang sengaja menipu publik.

Pada akhirnya, adaptasi yang paling tahan lama bukan sekadar patuh, melainkan membangun kebiasaan digital yang matang: platform lebih akuntabel, bisnis lebih aman, dan warga lebih kritis. Insight pentingnya: kebijakan seketat apa pun akan diuji oleh praktik sehari-hari—dan di situlah masa depan ruang daring Vietnam dibentuk.

Berita terbaru
Berita terbaru
17 Februari 2026

Siang hari yang biasanya dipenuhi rutinitas belanja mendadak berubah menjadi situasi darurat ketika kebakaran dilaporkan

30 Januari 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pengemudi di kota-kota besar Jepang semakin sering berhadapan dengan musuh yang

30 Januari 2026

Di pinggiran Jabodetabek, asap tipis yang muncul menjelang senja kerap dianggap “biasa”: tumpukan sampah terbuka

30 Januari 2026

Gelombang pendanaan baru untuk pelaku startup di Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada “musim” investor,

29 Januari 2026

Di Singapura, gagasan kota pintar kini bergerak dari sekadar layanan digital menjadi agenda yang lebih

29 Januari 2026

Di Vietnam, pertarungan melawan informasi palsu kini berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan negara atas ruang