Pemerintah Korea Selatan menyiapkan dana khusus untuk mendukung startup AI dalam tahap awal

En bref

  • Pemerintah Korea Selatan mendorong investasi strategis lewat dana khusus agar startup AI di tahap awal bisa bertahan dari “lembah kematian” pendanaan dan segera menemukan pasar.
  • Skema dukungan tidak berdiri sendiri: ia terhubung dengan agenda teknologi nasional, penguatan rantai pasok GPU, serta kehadiran regulasi komprehensif seperti AI Basic Act untuk menaikkan kepercayaan.
  • Program “AI berdaulat” bernilai sekitar ₩530 miliar untuk lima pemain lokal memperlihatkan model kompetisi: evaluasi tiap enam bulan, pendanaan berlanjut hanya untuk yang paling progresif.
  • Contoh pemain: LG Exaone menekankan kualitas data industri; SK Telecom A.X mengandalkan aset telco dan layanan agent; Naver HyperCLOVA X menonjol karena full-stack dari data center sampai aplikasi.
  • Gelombang kebijakan juga merangkul AI fisik seperti robot humanoid dan kendaraan otonom, memanfaatkan basis manufaktur Korea yang kuat.
  • Pelaku ekosistem di negara lain dapat memetik pelajaran: dana tahap awal perlu dibarengi akses data tepercaya, sandbox kepatuhan, dan jalur pilot di sektor publik.

Di tengah kompetisi global yang semakin tajam, Pemerintah Korea Selatan memosisikan kecerdasan buatan sebagai mesin pertumbuhan baru, bukan sekadar tren. Fokusnya bukan hanya melahirkan “aplikasi pintar”, melainkan membangun ketahanan teknologi—dari model bahasa besar, pusat data, hingga ketersediaan talenta dan aturan main yang jelas. Karena itu, narasi tentang dana khusus bagi startup AI di tahap awal menjadi penting: di fase inilah perusahaan paling rapuh, namun justru paling menentukan arah inovasi. Bagi Seoul, mempertahankan para perintis berarti menjaga kemampuan nasional untuk berkompetisi dengan OpenAI, Google, dan pemain besar lain, sambil memastikan data sensitif tetap berada dalam kontrol yang aman.

Yang membuat pendekatan Korea menarik adalah cara mereka menggabungkan dukungan fiskal, kompetisi yang terstruktur, dan target industri yang jelas. Ada program “AI berdaulat” bernilai ratusan miliar won untuk memperkuat model lokal, ada janji dukungan kebijakan bagi AI dan robotika, dan ada desain pendanaan yang makin spesifik untuk kebutuhan awal: biaya komputasi, uji coba produk, kepatuhan, hingga akses pasar melalui proyek pemerintah maupun korporasi. Di bawah permukaan, ini juga respons atas tekanan rantai pasok dan dinamika geopolitik ketegangan dagang Tiongkok-Barat yang mendorong negara-negara memperkuat kapasitas digital domestik.

Dana khusus Pemerintah Korea Selatan untuk startup AI tahap awal: dari ide ke produk yang layak pasar

Skema dana khusus untuk startup AI pada tahap awal pada dasarnya menjawab satu masalah klasik: biaya awal AI tidak sebanding dengan kecepatan pemasukan. Tim yang baru berdiri harus membayar komputasi untuk eksperimen model, membeli atau melisensikan data, mempekerjakan engineer mahal, dan memenuhi standar keamanan—sementara produk belum tentu laku. Dalam konteks Korea, tantangan itu makin berat karena pasar menuntut kualitas layanan tinggi dan kepatuhan cepat. Karena itu, insentif awal tidak boleh hanya berbentuk hibah kecil, melainkan paket yang menyentuh “biaya nyata” agar pengusaha bisa menguji hipotesis secara cepat.

Bayangkan kisah fiktif “Mina”, pendiri startup AI kesehatan yang ingin menganalisis rekam medis untuk deteksi dini risiko penyakit. Ia membutuhkan akses data yang aman, komputasi GPU untuk melatih model, serta audit privasi agar rumah sakit percaya. Tanpa dukungan, Mina akan terhenti pada prototipe. Dengan dukungan pemerintah, Mina bisa melewati fase paling kritis: membangun dataset terkurasi, menguji model di lingkungan sandbox, dan mengadakan pilot di satu rumah sakit rujukan. Setelah pilot menunjukkan penurunan waktu triase, ia dapat menarik investor swasta dengan bukti kuat, bukan sekadar pitch deck.

Dalam praktik, paket pendanaan tahap awal biasanya memadukan beberapa instrumen. Pertama, hibah riset dan pengembangan untuk prototipe. Kedua, kredit atau matching fund yang mendorong investor swasta ikut menanggung risiko. Ketiga, voucher komputasi untuk akses GPU dan cloud. Keempat, jalur pengadaan pemerintah yang memberi “pasar pertama”. Kelima, program pendampingan hukum dan kepatuhan—karena di era regulasi AI, biaya kepatuhan bisa sama beratnya dengan biaya engineering.

Korea juga menempatkan dana tahap awal dalam konteks visi ekonomi jangka menengah: AI sebagai pilar “ekonomi super-inovasi”. Artinya, startup tidak diperlakukan sebagai aksesoris, melainkan pemasok solusi ke manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga otomotif. Kebijakan seperti ini membantu startup memetakan use case yang lebih dekat pada problem industri, bukan hanya mengejar fitur yang viral. Di titik ini, relevan membandingkan cara negara lain mengatasi transformasi ekonomi, misalnya adaptasi ekonomi Hong Kong yang juga memadukan kebijakan dengan kebutuhan industri.

Yang sering diabaikan adalah komponen “kepercayaan” pada tahap awal. Startup AI harus menunjukkan bahwa modelnya tidak hanya akurat, tetapi juga dapat diaudit, tidak bias, dan aman. Karena itu, Pemerintah yang menyiapkan dana biasanya juga menyiapkan standar, panduan teknis, dan pusat bantuan kepatuhan. Pendekatan ini selaras dengan tren global tentang tata kelola, termasuk perdebatan pengawasan di berbagai yurisdiksi seperti pengawasan AI di Uni Eropa, yang menegaskan bahwa inovasi dan regulasi kini berjalan beriringan.

Jika dana tahap awal dirancang tepat, dampaknya bukan hanya melahirkan satu-dua perusahaan sukses. Ia menciptakan efek jaringan: vendor data lokal tumbuh, komunitas peneliti lebih aktif, dan korporasi lebih berani membuka pilot. Pada akhirnya, dana khusus menjadi “pemantik” yang mengubah ide menjadi produk, dan produk menjadi industri.

pemerintah korea selatan menyediakan dana khusus untuk mendukung pengembangan startup ai tahap awal, mendorong inovasi dan pertumbuhan teknologi di sektor kecerdasan buatan.

Desain kompetisi AI berdaulat ₩530 miliar: mengapa evaluasi 6 bulanan penting bagi ekosistem startup

Salah satu sinyal paling kuat dari arah kebijakan Korea adalah program AI berdaulat bernilai sekitar ₩530 miliar (kira-kira US$390 juta) untuk lima peserta lokal: LG AI Research, SK Telecom, Naver Cloud, NC AI, dan Upstage. Walau program ini tampak seperti dukungan untuk pemain besar, desainnya memberi pelajaran penting untuk pendanaan startup AI pada tahap awal: pendanaan harus berbasis kemajuan yang terukur, bukan sekadar reputasi. Evaluasi rutin tiap enam bulan membuat organisasi berlomba menunjukkan output nyata—mulai dari kualitas model, efisiensi biaya, sampai kesiapan produk.

Dalam ekosistem AI, kompetisi yang sehat sering lebih efektif daripada pendanaan yang “merata tapi tipis”. Model evaluasi berkala memaksa tim menetapkan metrik: kemampuan bahasa Korea, performa reasoning, kepatuhan keamanan, dan kinerja pada kasus industri. Mekanisme eliminasi terhadap peserta yang berkinerja buruk juga mengirim pesan ke pasar: uang publik harus menghasilkan kapasitas strategis, bukan sekadar penelitian tanpa hilir. Bagi startup kecil, pola ini bisa diadaptasi sebagai “stage-gated funding”: dana cair per pencapaian (misal, prototipe, pilot, kontrak pertama) sehingga disiplin eksekusi meningkat.

Program semacam ini juga memicu terbentuknya rantai nilai domestik. Ketika negara mendorong model lokal, kebutuhan akan GPU, optimisasi inference, teknik distilasi, hingga keamanan data meningkat. Startup tahap awal dapat masuk sebagai penyedia komponen: alat evaluasi bias, platform MLOps, enkripsi untuk data training, atau model kecil untuk perangkat edge. Dengan kata lain, tidak semua harus membangun model raksasa; banyak peluang di “pahat dan sekop” ekosistem AI.

Untuk membumikan ide ini, bayangkan startup hipotetis “HanBit”, tim kecil yang membuat alat audit dataset. Di bawah skema kompetisi nasional, HanBit bisa menjadi pemasok untuk beberapa peserta, karena semua membutuhkan validasi kualitas data. HanBit memperoleh pendapatan lebih cepat daripada startup yang mencoba membuat model besar sendiri. Kemudian, HanBit memutar pendapatan itu untuk memperkuat produk dan memperluas pasar ke sektor publik. Di sinilah dukungan pemerintah dapat mempercepat “time-to-revenue” bagi startup tahap awal.

Desain kompetisi juga mengurangi risiko “ketergantungan vendor luar”. Korea ingin menurunkan ketergantungan pada teknologi asing dan meningkatkan kontrol data. Konteks geopolitik membuat agenda ini semakin relevan, sejalan dengan dinamika tekanan sektor teknologi AS yang memengaruhi akses chip dan kerja sama lintas negara. Ketika akses teknologi kritis makin kompleks, kapasitas domestik dan diversifikasi pemasok menjadi strategi bertahan.

Di sisi lain, kompetisi bukan berarti menutup diri. Nilai kompetisi justru muncul saat standar benchmark dibuat transparan dan kolaborasi riset lintas kampus didorong. Dengan standar terbuka, startup tahap awal bisa menyesuaikan produk agar kompatibel dengan ekosistem nasional. Dampak akhirnya: pasar internal lebih kuat, daya saing regional meningkat, dan Korea punya posisi tawar lebih tinggi dalam ekonomi digital Asia.

Setelah kerangka kompetisi terbentuk, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang membuat tiap pemain unggul, dan pelajaran apa yang bisa ditarik untuk menyusun dana khusus bagi startup yang lebih kecil? Jawabannya terlihat pada strategi data, distribusi, dan full-stack.

Studi kasus pemain Korea: LG Exaone, SK Telecom A.X, dan Naver HyperCLOVA X sebagai peta strategi bagi startup

Untuk memahami bagaimana Pemerintah Korea Selatan mengarahkan investasi dan dukungan, menarik melihat tiga contoh yang sering dibahas: LG dengan Exaone, SK Telecom dengan A.X, dan Naver dengan HyperCLOVA X. Ketiganya menunjukkan bahwa keunggulan AI bukan hanya pada ukuran parameter, melainkan pada strategi data, akses distribusi, serta kemampuan menjalankan sistem end-to-end. Bagi startup di tahap awal, membaca peta ini membantu menentukan “posisi” yang realistis: apakah akan menjadi spesialis data, penyedia komponen, atau penyedia aplikasi vertikal.

LG Exaone: kualitas data industri sebagai sumber diferensiasi

LG AI Research mendorong Exaone generasi terbaru dengan pendekatan reasoning hybrid. Alih-alih sekadar memperbesar model, LG menekankan penyempurnaan data sebelum training—terutama data industri nyata seperti biotek, material, dan manufaktur. Logikanya sederhana: model umum bagus untuk percakapan, tetapi nilai ekonomi terbesar sering muncul saat AI memahami proses produksi, spesifikasi material, atau prosedur laboratorium. Dengan data yang bersih dan relevan, model lebih “berguna” walau tidak selalu terbesar.

Strategi yang relevan bagi startup: carilah akses data yang sulit ditiru. Misalnya, startup agritech yang bermitra dengan koperasi petani bisa memiliki dataset penyakit tanaman yang unik. Jika dipadukan dengan model yang efisien, produk bisa unggul tanpa perlu melawan model global secara langsung. Di sinilah dana tahap awal menjadi pembeda: ia membiayai akuisisi data dan kerja lapangan, yang sering tidak dianggap “seksi” oleh investor, padahal menentukan kualitas produk.

SK Telecom A.X: distribusi dan aset telco sebagai mesin adopsi

SK Telecom menonjol karena aset jaringan dan basis pelanggan. Layanan agent personalnya berkembang, dan model A.X dibangun dengan fondasi open-source yang kemudian dioptimalkan untuk bahasa Korea. Mereka mengklaim efisiensi pemrosesan bahasa lokal yang lebih baik dibanding model global tertentu, serta memiliki fitur yang relevan untuk pengguna sehari-hari seperti ringkasan panggilan dan catatan otomatis. Pelajaran untuk startup: distribusi sering lebih penting daripada fitur. Produk yang “cukup baik” namun punya jalur distribusi kuat bisa menang lebih cepat.

Di tahap awal, startup bisa meniru pola ini dengan menggandeng platform yang sudah punya trafik: marketplace, bank digital, operator, atau sistem kampus. Di negara mana pun, kemitraan semacam itu butuh kredibilitas. Maka, program pemerintah yang menyediakan sertifikasi, standar keamanan, atau pengadaan pilot dapat menjadi “stempel” agar startup dipercaya korporasi.

Naver membangun klaim “AI full stack”: model, pusat data, cloud, platform, hingga aplikasi konsumen. Mereka mengintegrasikan AI ke search, shopping, maps, dan layanan finansial. Kekuatan utamanya terletak pada data dunia nyata dari perilaku pengguna, sehingga rekomendasi belanja atau pencarian menjadi lebih kontekstual. Untuk startup, pesan utamanya bukan “bangun semuanya sendiri”, melainkan pahami di mana Anda bisa menempel pada stack yang sudah ada. Startup tahap awal bisa fokus pada satu lapisan: misalnya plugin pencarian untuk katalog UMKM, atau sistem rekomendasi untuk ritel tertentu.

Yang menarik, strategi integrasi Naver memperlihatkan bahwa AI adalah “konektor” antar sistem lama yang terpisah. Banyak organisasi memiliki data tersebar di berbagai aplikasi. Startup yang menyediakan integrasi aman—ETL modern, permissioning, atau AI assistant internal—dapat menghasilkan nilai besar walau tidak membuat model raksasa.

Untuk merangkum perbedaan strategi tiga pemain ini, berikut tabel yang memetakan fokus dan peluang turunan bagi startup:

Pemain
Fokus Kekuatan
Contoh Aset Kunci
Peluang untuk Startup Tahap Awal
LG (Exaone)
Kualitas data & AI industri
Data manufaktur, material, biotek
Tools kurasi data, model vertikal untuk pabrik/lab, audit dataset
SK Telecom (A.X)
Distribusi & layanan agent
Jaringan telco, basis pengguna, data mobilitas
Integrasi voice-to-text, workflow ringkasan, aplikasi B2B untuk call center
Naver (HyperCLOVA X)
Full-stack & integrasi layanan
Cloud, data center, search & shopping
Plugin enterprise, vertical search, rekomendasi niche, keamanan akses data

Setelah melihat strategi pemain besar, bagian paling relevan bagi kebijakan adalah bagaimana negara memastikan startup kecil tidak tertinggal. Kuncinya ada pada desain instrumen: akses komputasi, pilot sektor publik, dan mekanisme “pasar pertama” yang adil.

Skema dukungan kebijakan untuk AI dan robotika: dari dana tahap awal sampai proyek AI fisik

Pendanaan untuk startup AI tidak efektif jika berdiri sendiri. Ia perlu ditopang kebijakan lintas sektor, terutama ketika AI mulai masuk ke dunia fisik: robot humanoid, otomasi gudang, dan kendaraan otonom. Korea menegaskan bahwa AI fisik adalah industri masa depan di mana mereka punya keunggulan karena basis manufaktur dan infrastruktur kuat. Dalam pertemuan pemerintah dengan pimpinan perusahaan AI, robotika, dan otomotif di fasilitas robotika Hyundai, arah kebijakannya jelas: negara akan menggunakan instrumen yang tersedia untuk memastikan perusahaan domestik mampu melahirkan produk kelas dunia.

Untuk startup tahap awal, AI fisik menuntut jenis dukungan yang sedikit berbeda dibanding aplikasi digital. Selain komputasi, mereka butuh fasilitas uji (testbed), sertifikasi keselamatan, akses komponen, dan asuransi risiko. Jika pemerintah menyiapkan jalur uji robot di lingkungan pabrik atau jalur uji kendaraan otonom, startup bisa mempercepat iterasi tanpa membakar modal terlalu cepat. Dalam banyak kasus, biaya terbesar bukan coding, melainkan pengujian berulang dan kepatuhan keselamatan.

Contoh sederhana: startup robot inspeksi pabrik harus membuktikan robotnya aman di area kerja. Mereka perlu bernegosiasi dengan pabrik, memenuhi standar keselamatan kerja, dan mendokumentasikan prosedur. Program pemerintah dapat menyediakan “paket akses” ke pabrik mitra serta pendampingan standar. Hasilnya, startup bisa fokus pada inovasi produk, bukan tersandera birokrasi.

Kebijakan yang matang juga mengakui bahwa AI berkembang cepat, sementara aturan sering tertinggal. Karena itu, beberapa negara menyiapkan masa transisi sebelum penegakan sanksi penuh, sambil menyediakan panduan teknis dan pusat bantuan. Pendekatan ini memberi ruang bernapas bagi startup tahap awal untuk menyesuaikan diri tanpa takut “mati karena kepatuhan” sebelum sempat tumbuh. Pelajaran ini penting bagi negara lain yang sedang mengejar transformasi digital, termasuk perdebatan domestik tentang kepastian kebijakan, misalnya isu kepastian aturan pajak digital dari pemerintah Indonesia yang menunjukkan betapa regulasi bisa menentukan minat investasi.

Di sisi implementasi, dukungan kebijakan sering menjadi jembatan menuju pembiayaan swasta. Investor lebih percaya ketika startup punya jalur uji resmi, kepatuhan jelas, dan akses pasar awal. Ini menciptakan siklus: negara menurunkan risiko awal, swasta masuk dengan modal pertumbuhan, lalu startup memperluas lapangan kerja. Dalam ekosistem yang sehat, peran pemerintah perlahan bergeser dari “pembayar” menjadi “pencipta pasar dan aturan main”.

Menariknya, kisah AI fisik juga terhubung dengan tren drone dan otomasi di sektor lain. Inovasi drone untuk logistik dan pertanian, misalnya, memperlihatkan bagaimana teknologi bergerak dari lab ke lapangan: lihat dinamika proyek drone di Amazon Brasil atau penggunaan drone semprot sawah skala besar yang menuntut standar keselamatan dan dukungan ekosistem. Polanya sama: tanpa testbed, tanpa regulasi yang adaptif, dan tanpa pembiayaan tahap awal, produk sulit menembus pasar.

Jika AI fisik membutuhkan testbed dan sertifikasi, maka AI perangkat lunak membutuhkan akses data dan komputasi yang terjangkau. Di bagian berikutnya, fokusnya adalah cara merancang dana khusus agar tidak hanya menyalakan “api inovasi”, tetapi juga memastikan startup tahap awal bisa menemukan pelanggan pertama dengan cepat.

pemerintah korea selatan menyediakan dana khusus untuk mendukung pengembangan startup ai di tahap awal, mendorong inovasi dan pertumbuhan teknologi di industri kecerdasan buatan.

Cetak biru implementasi dana khusus: komputasi, data tepercaya, dan pasar pertama untuk startup AI tahap awal

Mendesain dana khusus untuk startup AI di tahap awal bukan soal “berapa besar angkanya”, melainkan bagaimana uang itu mengubah perilaku pasar. Jika dana hanya menjadi hibah tanpa jalur adopsi, startup akan berhenti di demo. Jika dana hanya mengejar model besar, negara akan membakar anggaran tanpa menciptakan nilai industri. Karena itu, cetak biru yang efektif biasanya memiliki tiga pilar: komputasi yang dapat diakses, data tepercaya yang legal, dan pasar pertama yang nyata.

Pilar komputasi berarti akses ke GPU, cloud, dan tooling MLOps. Ini bisa berupa voucher komputasi, kredit pajak untuk biaya cloud, atau kerja sama dengan penyedia pusat data. Korea, dengan agenda memperkuat infrastruktur AI, menempatkan komputasi sebagai tulang punggung. Bagi startup, ketersediaan komputasi menentukan seberapa cepat mereka bisa melakukan eksperimen, fine-tuning, dan evaluasi keselamatan. Tanpa akses ini, perusahaan kecil akan kalah sebelum bertanding.

Pilar data tepercaya adalah yang paling sensitif. Banyak use case bernilai tinggi—kesehatan, finansial, mobilitas—bergantung pada data yang dilindungi. Pemerintah dapat berperan sebagai penjaga gerbang yang menciptakan mekanisme berbagi data aman: data trust, anonimisasi standar, audit akses, dan perjanjian yang jelas. Dengan begitu, startup tidak terdorong “mengakali” data, melainkan membangun produk yang patuh sejak awal. Ketika kepercayaan meningkat, korporasi juga lebih nyaman melakukan kolaborasi.

Pilar pasar pertama sering dilupakan, padahal inilah cara paling cepat mengubah inovasi menjadi pertumbuhan. Pemerintah bisa mengadakan program pengadaan yang ramah startup: kontrak kecil untuk pilot, proses administrasi yang disederhanakan, dan katalog solusi yang bisa diuji instansi. Dalam konteks ini, dana khusus bukan hanya memberi uang ke startup, tetapi juga membayar instansi untuk menjadi “pengguna awal” yang memberi umpan balik. Startup mendapatkan referensi, instansi mendapatkan layanan lebih efisien, publik mendapatkan manfaat.

Berikut daftar praktik yang kerap dipakai untuk membuat dukungan tahap awal benar-benar bekerja di lapangan:

  • Stage-gated funding: pencairan dana berdasarkan milestone (prototipe, pilot, kepatuhan, kontrak pertama).
  • Voucher GPU dan cloud: memotong biaya eksperimen dan inference untuk pelanggan awal.
  • Regulatory sandbox: ruang uji kepatuhan agar produk aman sebelum skala besar.
  • Program pilot sektor publik: pemerintah menjadi pembeli pertama, bukan hanya pemberi hibah.
  • Skema kemitraan korporasi-startup: insentif untuk perusahaan besar membuka data dan kasus penggunaan.
  • Pusat bantuan teknis: panduan keamanan, privasi, dan dokumentasi model agar siap audit.

Ekosistem juga dipengaruhi budaya kerja modern. Banyak tim AI bekerja hibrida dan mencari tempat kolaborasi informal, dari coworking hingga kafe. Fenomena seperti work from cafe di Jakarta menunjukkan bagaimana komunitas terbentuk di luar kantor, mempercepat pertukaran ide. Korea pun memanfaatkan konsentrasi talenta di hub inovasi untuk mempercepat kolaborasi antar startup, kampus, dan korporasi.

Terakhir, penting melihat bahwa strategi ini tidak terisolasi dari diplomasi ekonomi. Ketika negara membangun kapasitas AI domestik, ia juga memperkuat posisi negosiasi dalam kerja sama regional, termasuk rantai pasok dan standar. Di Asia Tenggara, misalnya, pembicaraan tentang diplomasi ekonomi Indonesia di ASEAN memperlihatkan bahwa kebijakan industri digital kian menjadi bagian dari strategi kawasan. Dengan pilar komputasi, data tepercaya, dan pasar pertama, dana khusus untuk startup tahap awal bukan hanya program bantuan—melainkan mesin pembentuk daya saing.

Insight akhirnya: ketika Pemerintah Korea Selatan menempatkan investasi awal sebagai desain sistem—bukan proyek satu kali—mereka sedang membangun jalur cepat dari laboratorium ke pasar, tempat inovasi benar-benar diuji.

Berita terbaru
Berita terbaru
17 Februari 2026

Siang hari yang biasanya dipenuhi rutinitas belanja mendadak berubah menjadi situasi darurat ketika kebakaran dilaporkan

30 Januari 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, pengemudi di kota-kota besar Jepang semakin sering berhadapan dengan musuh yang

30 Januari 2026

Di pinggiran Jabodetabek, asap tipis yang muncul menjelang senja kerap dianggap “biasa”: tumpukan sampah terbuka

30 Januari 2026

Gelombang pendanaan baru untuk pelaku startup di Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada “musim” investor,

29 Januari 2026

Di Singapura, gagasan kota pintar kini bergerak dari sekadar layanan digital menjadi agenda yang lebih

29 Januari 2026

Di Vietnam, pertarungan melawan informasi palsu kini berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan negara atas ruang